Friday, December 8, 2017

SEHARUSNYA INI SURAT CINTA


Perlu pertimbangan dan keberanian tersendiri untuk akhirnya menuliskan surat ini, dan aku harus ekstra bijak menentukan untuk siapakah surat terakhirku kutujukan.

Banyak nama yang bermunculan dalam pikiranku, orangtuaku, sahabat-sahabatku (mereka belum kebagian surat dariku) teman-teman kerjaku, banyak! Lantas nama itu berhenti, di namamu.

Dua puluh tahun dalam hidupku, aku pernah mengalami dua tahun yang teramat pelik, dimana kesedihan tak berhenti-henti mencekik, dan nyanyian cinta tak lagi terdengar menarik.

Di masa itu, aku menjalani hidupku seperti botol kosong yang mengapung-apung di lautan. Sepi, sendiri, dan tak tahu jalan.

Aku tak bermaksud melebih-lebihkan, tapi kamu boleh tanya, begitulah perasaan orang-orang yang pernah rusak cintanya, dan terluka habis hatinya.

Maka dari itu, tak berlebihan jika aku memutuskan untuk memagari diriku sendiri rapat-rapat, agar tak ada lagi siapapun yang mendekat.

Lalu itu kamu, yang tiba-tiba masuk ke kehidupanku.

Kamu tunjukkan aku benar-benar bahagia, melalui sebuah pesan singkat yang teramat biasa, kamu tunjukkan aku rupa-rupa mimpi, melalui pembicaraan kecil setiap hari.
Kamu tunjukkan aku geliat-geliat harapan, melalui satu dua keping perhatian.
Singkatnya, kamu tunjukkan aku kehidupan, hanya melalui sebuah senyuman.

Dari situ kamu ajari kembali aku kilau cinta dari sisi yang lebih sederhana.
Memberi aku sebuah keyakinan, bahwa tak mustahil kembali memulai apa yang sebelumnya berderai dibungkas badai.

Kamu membuat aku mengingat kembali bagaimana rasanya tertawa karena hal-hal yang sepintas tak bermakna, bagaimana rasanya menyebutkan sebuah nama dalam setiap doa, atau menjejali diri sendiri dengan beribu harap dan asa.

Karena hanya bersamamu, aku merasakan kembali bahagia yang meletup letup, hanya kamulah yang sanggup. Dan betapa hatiku berderak-derak, memainkan lagu-lagu cinta hanya karena kita berjalan bersisian.

Sekali lagi aku tegaskan ini surat cinta, bukanlah puisi atau prosa.

Tapi aku harus menulis untukmu bukan tentangmu, otakku lalu beku.
Aku tak tau harus menulis apa, dan bagaimana. Semua kata-kata bermain di kepala, tapi hanya seperti roman-roman penuh kiasan belaka.

Setelah carut marut pembukaan yang mungkin terkesan rumit, aku hanya bisa menulis sedikit saja untukmu bukan tentangmu yang kuharap dapat kamu mengerti isinya.

Satu lagi,

Kamu pernah mendengar kabar bahwa aku mencintaimu? Sepertinya itu benar.

Untukmu, yang aku harapkan akan hadir, di garis akhir.
Karena kamu tahu? aku berniat mencintaimu tanpa tapi, dan tanpa tepi.
Sampai jumpa.

0 comments:

Post a Comment

 
;