Monday, September 23, 2019 0 comments

Tepi Jendela

Kepada perempuan yang berada di tepi jendela,

Apa yang membuatmu membentengi diri dengan rutinitas demi hidup di masa lalu?

Aku mengerti masa lalu bersama ayahmu adalah kebahagiaan; menunggunya pulang dari bepergian, membawa berbotol-botol anggur dan menyimpannya dalam wine cellar. Ikut mencicip rasa-rasa anggur yang bahkan ketika itu belum mampu kamu hafal namanya karena begitu rumit; Cabernet sauvignon Gewurztraminer, Viognier. Meskipun pada akhirnya kamu menemukannya pergi dengan senyum di wajahnya.

Aku mengerti masa lalu bersama dia adalah kebahagiaan; membunuh waktu dengan menulis berlembar-lembar manuskrip. Menunggunya hingga tertidur demi dia mendapatkan dua karakter utama untuk cerita yang tengah ditulisnya. Meskipun pada akhirnya dia pergi dalam pelukanmu sendiri.

Sama seperti lelaki yang pada akhirnya mampu menembus benteng pertahananmu, aku selalu bertanya apa yang kamu tulis dalam laptop di hadapanmu itu setiap harinya. Dan aku meragukan benarkah kamu hanya menulis kisah-kisah misteri dengan karakter detektif dan usahanya memecahkan misteri itu? Ah, betul, aku tidak salah menulis; aku menulis menembus bentengmu, karena meski lelaki itu dan kamu dapat menjalin dialog-dialog tanpa rasa kikuk, bentengmu masih berdiri kokoh. Kamu masih hidup di masa lalu.

Hei, apakah kamu pernah berpikir bahwa lelaki itu suatu saat akan melupakanmu? Ya, saat ini dia pun terluka atas pilihan yang telah kalian buat. Tapi lelaki itu tidak sendiri sekarang. Seseorang pernah berkata, bahwa cinta bisa datang karena terbiasa.

Apakah kamu masih takut dengan kesendirian sehingga membuatmu tetap memutuskan tenggelam di masa lalu – dengan benteng deretan kata dalam laptopmu, bangku di tepi jendela, dan gelas-gelas anggur? Bukankah Layla pernah berkata bahwa cinta itu punya bentuk yang berbeda-beda. Terasa beda dengan setiap orang. Jadi, kamu tidak perlu takut, bukan?

Karena, jika kamu ingin tahu, sejatinya perpisahan akan menuntunmu pada pertemuan baru.

Saturday, October 20, 2018 0 comments

AKU ANDROMEDA


Kepada yang tak tersampaikan
Aku tidak akan sedih ketika kamu berhenti mencintaiku
Aku tidak akan sedih ketika kamu berhenti menginginkanku
Aku tidak akan sedih ketika kamu berhenti membutuhkanku
Aku tidak akan sedih ketika kamu membuat kecewa sehebat apapun
Aku juga tidak akan menangis ketika kamu meninggalkanku
Kenapa? Pasti kamu bertanya-tanya
Karena aku, ingin menjadi Andromeda
Kamu tau Andromeda? Andromeda itu bintang yang paling terang, ketika langit gelap Andromeda selalu muncul untuk menerangi dan memberikan keindahan
Karena Andromeda itu menerangi, bukan diterangi

Kepada yang tak pernah tersampaikan, kenapa aku ingin jadi Andromeda? Karena aku ingin dikenang, aku ingin kelak nanti, akan ada sesuatu yang kamu kenang, bahwa aku sesabar ini, setegar ini, sehebat ini

Aku, Adromedamu!

Kepada yang tak pernah tersampaikan, aku Andromedamu yang menerangi hatimu, bukan orang yang kamu cintai, aku ingin menerangi hatimu dan jiwamu tanpa alasan

Aku, Andromedamu!

Kepada yang tak pernah tersampaikan, I was your Andromeda!

Tapi kalau nantinya ada Andromeda lain, ketika aku pergi, jangan redupkan sinarku, simpan aku didalam toples bernama "Kenangan" bersama Apel dan Suratku ini

Kepada yang tak tersampaikan, aku menulis ini hanya sebagai ungkapan lain, dari ungkapan yang tak pernah aku ucapkan, aku menulis ini untuk menghilangkan dendam, aku ingin tenang tidak terbayang amarah

Aku, hanya Andromedamu!

Friday, December 8, 2017 0 comments

SEHARUSNYA INI SURAT CINTA


Perlu pertimbangan dan keberanian tersendiri untuk akhirnya menuliskan surat ini, dan aku harus ekstra bijak menentukan untuk siapakah surat terakhirku kutujukan.

Banyak nama yang bermunculan dalam pikiranku, orangtuaku, sahabat-sahabatku (mereka belum kebagian surat dariku) teman-teman kerjaku, banyak! Lantas nama itu berhenti, di namamu.

Dua puluh tahun dalam hidupku, aku pernah mengalami dua tahun yang teramat pelik, dimana kesedihan tak berhenti-henti mencekik, dan nyanyian cinta tak lagi terdengar menarik.

Di masa itu, aku menjalani hidupku seperti botol kosong yang mengapung-apung di lautan. Sepi, sendiri, dan tak tahu jalan.

Aku tak bermaksud melebih-lebihkan, tapi kamu boleh tanya, begitulah perasaan orang-orang yang pernah rusak cintanya, dan terluka habis hatinya.

Maka dari itu, tak berlebihan jika aku memutuskan untuk memagari diriku sendiri rapat-rapat, agar tak ada lagi siapapun yang mendekat.

Lalu itu kamu, yang tiba-tiba masuk ke kehidupanku.

Kamu tunjukkan aku benar-benar bahagia, melalui sebuah pesan singkat yang teramat biasa, kamu tunjukkan aku rupa-rupa mimpi, melalui pembicaraan kecil setiap hari.
Kamu tunjukkan aku geliat-geliat harapan, melalui satu dua keping perhatian.
Singkatnya, kamu tunjukkan aku kehidupan, hanya melalui sebuah senyuman.

Dari situ kamu ajari kembali aku kilau cinta dari sisi yang lebih sederhana.
Memberi aku sebuah keyakinan, bahwa tak mustahil kembali memulai apa yang sebelumnya berderai dibungkas badai.

Kamu membuat aku mengingat kembali bagaimana rasanya tertawa karena hal-hal yang sepintas tak bermakna, bagaimana rasanya menyebutkan sebuah nama dalam setiap doa, atau menjejali diri sendiri dengan beribu harap dan asa.

Karena hanya bersamamu, aku merasakan kembali bahagia yang meletup letup, hanya kamulah yang sanggup. Dan betapa hatiku berderak-derak, memainkan lagu-lagu cinta hanya karena kita berjalan bersisian.

Sekali lagi aku tegaskan ini surat cinta, bukanlah puisi atau prosa.

Tapi aku harus menulis untukmu bukan tentangmu, otakku lalu beku.
Aku tak tau harus menulis apa, dan bagaimana. Semua kata-kata bermain di kepala, tapi hanya seperti roman-roman penuh kiasan belaka.

Setelah carut marut pembukaan yang mungkin terkesan rumit, aku hanya bisa menulis sedikit saja untukmu bukan tentangmu yang kuharap dapat kamu mengerti isinya.

Satu lagi,

Kamu pernah mendengar kabar bahwa aku mencintaimu? Sepertinya itu benar.

Untukmu, yang aku harapkan akan hadir, di garis akhir.
Karena kamu tahu? aku berniat mencintaimu tanpa tapi, dan tanpa tepi.
Sampai jumpa.

 
;